RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Perjalanan Sapi Ongole, Sumba Ongole (SO), Hingga Peranakan Ongole (PO)

Sapi ongole adalah jenis sapi yang berasal dari Distrik Prakasam di negara bagian Andhra Pradesh di India. Trah ini diberi nama berdasarkan tempat asalnya, yaitu Kota Ongole. Sapi ongole, yang tergolong dalam subspesies Bos indicus, banyak diminati karena tahan terhadap penyakit mulut dan kuku serta penyakit sapi gila. Sapi Ongole termasuk tipe sapi pekerja dan pedaging.

Selain dipelihara sebagai hewan ternak, karena kekuatan dan agresivitasnya sapi ini juga digunakan sebagai hewan aduan di Meksiko, beberapa bagian Afrika Timur, di Andhra Pradesh dan Tamil Nadu. Dari India, Pemerintah Hindia Belanda kemudian memasukkan sejumlah Sapi Ongole yaitu 496 ekor sapi ongole betina serta 70 ekor anakan ongole, ke pulau Sumba pada awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1906-1907.  

Pada periode yang sama, Selain Sapi Ongole, Pemerintah Hindia Belanda juga memasukkan sapi Bali, sapi Madura, dan sapi Jawa ke pulau Sumba. Dari empat jenis sapi tersebut, ternyata hanya sapi jenis Ongole yang mampu beradaptasi dengan baik dan berkembang dengan cepat walaupun musim kemarau di Pulau Sumba berlangsung cukup lama. Oleh sebab itu, pada tahun 1914, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan bahwa Pulau Sumba sebagai pusat pembibitan sapi Ongole murni yang kemudian disebut sebagai sapi Sumba Ongole.

 

Sapi Sumba Ongole.

Sapi Sumba Ongole saat ini dipelihara oleh peternak  secara bersama-sama di lahan penggembalaan (ranch) yang sangat luas dalam jumlah ratusan ekor sapi.  Untuk menandai kepemilikan sapi agar tidak tertukar, setiap peternak  akan membuat ciri tersendiri pada ternak miliknya, dengan sobekan di telinga atau dengan cap bakar di bagian paha sapi.

Dibandingkan dengan jenis lain, secara fisik sapi sumba ongole mudah sekali dikenali, karena mempunyai beberapa ciri sebagai berikut:

  1. Warna kulit putih, disekitar kepala sedikit lebih gelap dan cenderung abu-abu
  2. Postur tubuh agak panjang, leher sedikit pendek dan kaki terlihat panjang
  3. Memiliki punuk yang ukurannya cukup besar,  tumbuh lurus dan berkembang baik pada ternak jantan. dan serta  terdapat gelambir (lipatan-lipatan kulit) pada bagian bawah leher dan perut
  4. Ukuran telinganya cukup  panjang dan menggantung
  5. Kepala relatif pendek dengan profil melengkung.
  6. Mata besar  berukuran besar dengan kulit disekitar kelopak mata berwarna hitam
  7. Terdapat tanduk baik pada sapi jantan dan betina. Ukuran tanduk yang lebih panjang terdapat pada  sapi betina.
  8. Tinggi sapi jantan berkisar 150 cm dengan berat badan mencapai 600 kg. Sedangkan sapi betina memiliki tinggi 135 cm dengan berat badan 450 kg.
  9. Pertambahan bobot rata-rata berkisar 0.85 – 0.95 kg/hari dengan kualitas karkas 45-58%.

 

Sapi PO (Peranakan Ongole)

Sapi PO adalah jenis sapi hasil program ongolisasi sapi-sapi di pulau Jawa dengan sapi Ongole. Program tersebut menghasilkan sapi PO dengan postur tubuh maupun bobot badan lebih kecil dibandingkan dengan sapi Ongole, punuk dan gelambir kelihatan kecil atau tidak muncul punuk sama sekali.

Saat ini Sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak disilangkan dengan sapi Brahman. Oleh karena itu sapi PO sering diartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sesuai dengan induk persilangannya, Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja. Mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, sapi ini juga memiliki tenaga yang kuat.

Aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak, sedangkan jantannya memiliki kualitas semen yang baik. Keunggulan sapi PO ini antara lain tahan terhadap panas, terhadap ekto dan endoparasit, pertumbuhan relatif cepat walaupun adaptasi terhadap pakan kurang, serta persentase karkas dan kualitas daging baik.

 

Sapi PO (Peranakan Ongole) Kebumen

Sapi peranakan ongole (PO) Kebumen adalah sapi PO aset ternak Jawa Tengah yang mempunyai nilai ekonomi dan sosial yang tinggi karena memiliki kualitas lebih baik dibandingkan jenis sapi PO lainnya. Tergolong sapi yang jinak sehingga mudah dipihara. Selain itu bobotnya mencapai 900 kg,  tahanan terhadap kondisi pakan yang terbatas. Ciri fisik Sapi PO (Peranakan Ongole) Kebumen adalah bergelambir tebal berlipat-lipat membentuk garis lurus dan tidak putus mulai dari dagu sampai ke ambing. Warnanya putih polos dan jinak.

Sejarah Sapi PO (Peranakan Ongole) Kebumen berawal dari tahun 1900, ketika Residen Bagelen Burnaby Lautier asal Belanda, mendatangkan sapi Benggala/Ongole dari Zebu, India.Tujuannya adalah untuk dikawinkan dengan sapi Jawa sehingga menghasilkan sapi yang terkenal dengan nama Benggala Jawa dan menjadi bibit sapi populer di daerah Mirit dan Kutoarjo dan menyebar hingga daerah Yogyakarta.

  • Tahun 1906 hingga 1917, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan peternakan sapi di Mirit dengan nama “Mirit Banteng”, untuk mengembangkan dua jenis sapi, yaitu sapi Jawa dan sapi Benggala.
  • Pada Tahun 1935, pemerintah Hindia Belanda kembali mengimpor sapi Ongole dari India untuk dikembangbiakkan di  Miri. Tahun 1953, mulai dikenalkan inseminasi buatan dengan semen segar.
  • Tahun 1965-1975, dibawah manajemen  Dokter Hewan Barkah, Mirit berkembang pesat menjadi  peternakan khusus sapi PO.

Keunggulan sapi PO Kebumen terlihat pada saat pelaksanaan kontes  ternak sapi potong Jawa Tengah dan DIY yang dilaksanakan di Kabupaten Klaten pada November 2014 lalu. Sapi-sapi  PO  Kebumen mendominasi kejuaran kontes dengan memenangkan tujuh kategori. Karena besarnya  potensi sapi PO ini, Kementrian Pertanian melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 358/Kpts/PK.040/6/2015, menetapkan bahwa sapi peranakan onglole (PO) Kebumen sebagai kekayaan sumber genetik ternak lokal Indonesia dan harus dilindungi dan dilestarikan.

Selain di Kabupaten Kebumen, pengembangan sapi PO juga tersebar di Kabupaten Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Wonogiri dan Boyolali. Harga jual sapi PO ini bervariasi, tergantung dari gender serta  kualitas sapi PO. Biasanya sapi yang dijual masih “pedetan” atau masih muda yang usianya sekitar 5 bulan karena di usia itu, harga sapi PO bisa sangat tinggi.

Sedangkan untuk proses perkawinannya dilakukan secara alami melalui proses mating atau kawin yang disengaja oleh peternak dengan didatangkan sapi pejantan. Saat sudah beranak, nantinya sapi pejantan yang sudah umurnya telah mencapai  lima bulan akan dijual. Sedangkan sapi betina akan dipelihara lagi untuk proses pembibitan berikutnya.

Selain sapi PO, di Kebumen juga dikenal sapi Madras (Madjapahit Ras), yaitu sapi khas Kebumen yang merupakan persilangan generasi ke generasi antara sapi Jawa, sapi Ongole dan sapi Brahman.

 

Sapi PO (Peranakan Ongole) Rembang

Rembang menjadi kabupaten ke dua setelah Kebumen yang telah ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit sapi PO di Jawa Tengah. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) dari Kementrian Pertanian Nomor 404/Kpts/PK.010/7/2017, Kabupaten Rembang telah ditetapkan sebagai sumber bibit sapi Peranakan Ongole. Dengan SK tersebut, Bibit- bibit sapi PO indukan yang berasal dari wilayah Kabupaten Rembang dalam hal ini Kecamatan Kragan akan memiliki sertifikat yang menjamin kualitasnya. dan bebas dari penyakit menular.

Efek positif dari penetapan Rembang sebagai sumber bibit sapi PO ini, antara lain dapat meningkatkan harga jual dan kepercayaan para konsumen atau pembeli yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan peternak. Namun yang perlu diperhatikan peternak harus benar- benar menjaga kesehatan sapi dan termasuk tidak sembarangan menjual sapinya karena sebagai sumber bibit. Di Kragan memang cukup banyak peternak sapi PO, seperti di desa Ngasinan, Mojokerto dan Kendalagung.

Kenali Tingkatan Kualitas dan Ciri Daging Wagyu yang Asli

Wagyu terkenal karena kualitas dan harganya yang mahal. Belakangan semakin banyak bermunculan daging wagyu tiruan yang seolah dengan sengaja mengecoh pembeli. Nah, agar Anda tidak salah beli, sebaiknya mulai kenali tingkatan kualitas dan ciri daging wagyu yang asli. Baca selengkapnya...

Perlakuan Pada Sapi Perah Jantan Sebagai Penghasil Daging Yang Enak Untuk Barbeque

Sapi perah jantan yang kurang berkualitas sebagai pemacek umumnya dimanfaatkan sebagai sapi potong untuk menghasilkan daging yang enak untuk barbeque. Sapi perah jantan umumnya akan dikawinkan dengan sapi betina ketika menginjak usia 10-11 bulan, sebanyak 1-2 kali perkawinan. Jumlah perkawinan sapi akan meningkat seiring usia sapi jantan, dan biasanya para peternak mengawinkan sapi sebanyak 2 kali dalam satu minggu. Baca selengkapnya...

BALITNAK - Balai Penelitian Ternak

Sejarah berdirinya Balitnak - Balai Penelitian Ternak (Balitnak) merupakan gabungan dua Unit Kerja bidang peternakan yaitu Lembaga Penelitian Peternakan (LPP) di jalan Raya Pajajaranm, Bogor dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak (P3T) di Ciawi, Bogor pada tahun 1981. Sejalan dengan perkembangannya, sejak didirikan masing-masing unit kerja tersebut telah beberapa kali mengalami perubahan nama. Baca selengkapnya...

Kenali Gejala Penyakit Radang Usus Kronis Pada Sapi

Nama penyakit yang menyebabkan radang usus kronis pada sapi ini adalah Johne’s Disease. Merupakan salah satu penyakit yang menjangkiti ternak sapi, baik sapi potong maupun sapi perah, yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit yang juga umum disebut dengan nama Paratuberkulosis ini merupakan penyakit menahun yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium avium subsp. Baca selengkapnya...