RAGAM INFORMASI

TENTANG DUNIA PERSAPIAN

Muhammad Sholeh, Tukang Tambal Ban yang Menjadi Contoh Pengusaha Sukses Di Bidang Peternakan Sapi

Tidak ada yang bisa menebak nasib seseorang. Tak ada pula yang bisa menentukan secara pasti rejeki seseorang. Namun, satu hal yang pasti kerja keras adalah resep mujarab untuk menjadi contoh pengusaha sukses. Hal ini pun telah pula dibuktikan oleh Muhammad Sholeh. Pria paruh baya yang dulu berprofesi sebagai tukang tambal ban itu, kini menjelma menjadi peternak sapi sukses

Tak tanggung-tanggung, langganannya adalah pejabat teras, mulai dari bupati, gubernur bahkan presiden Joko Widodo. Lantas, bagaimana kisah si tukang tambal ban yang menjelma menjadi peternak sapi sukses itu? Berikut ulasannya. Sholeh menempuh jalan panjang dan berliku hingga akhirnya bisa menjadi contoh pengusaha yang meneguk manisnya rupiah dari bisnis beternak sapi.

Awalnya pria yang kini telah paruh baya tersebut melakoni masa mudanya dengan menjadi tukang tamban ban. Ia pun sempat pula menjalani profesi sebagai penjaga kebersihan di terminal. Jalan ‘keras’ kehidupan demi mencari rupiah tetap dilakoni meski tak mudah, hingga akhirnya ia mengambil keputusan menjadi seorang peternak sapi sukses di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Berhasil mencapai kesuksesan di Gresik, sebenarnya Sholeh bukanlah asli kota yang kondang dengan produk semennya itu. Namun, ia berasal dari Lamongan. Jauh-jauh merantau dari kabupaten yang masyur dengan kuliner sotonya itu ke Gresik, Sholeh menjalani profesinya sebagai tukang tambal ban cukup lama, hingga 5 tahun.

Hasil dari buka tambal ban tersebut memang tak seberapa. Menariknya, ia masih mampu menyisihkan diantara penghasilan itu untuk membeli ternak. Ternak yang mula-mula dipelihara Sholeh bukan sapi, melainkan kambing. Ia awalnya membeli 2 ekor kambing dan membangun kandang kecil.

“Sempat bersih-bersih di terminal, sempat juga buka tambal ban bertahun-tahun di Lamongan. Saya sendiri bukan asli Gresik, tapi perantauan asal Lamongan. Pindah kesini juga nggak langsung ternak, tapi buka tambal ban dulu,” ungkap suami dari Suparmi itu sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Bermodalkan kambing dua ekor tersebut, Sholeh dengan tekad penuh melakoni profesi barunya sebagai peternak. Ia dengan telaten merawat kambing-kambingnya hingga akhirnya beranak pinak. Lama berkecimpung dengan dunia ternak kambing, ia akhirnya memperluas bisnis peternakannya ke peternakan sapi.

Butuh waktu lama hingga manuver tersebut dilakukan. Sholeh baru terjun ke ‘dunia sapi’ kurang dari 10 tahun lalu.“Waktu itu saya beli dua ekor kambing di Pasar Mentaras (pasar hewan). Kemudian saya pelihara dengan telaten dan kemudian berkembang banyak,” katanya.

Keputusan besarnya untuk banting stir menjadi peternak tidak salah. Hal ini terbukti dalam beberapa tahun belakangan peternakan Sholeh terus berkembang. Permintaan ternak darinya datang dari berbagai pihak, termasuk pejabat-pejabat atas bahkan presiden. Adalah Presiden Joko Widodo yang selama beberapa tahun belakangan order sapi ke Sholeh.

“Alhamdulillah, sejak beberapa tahun lalu banyak pejabat yang beli sapi di sini. Mulai dari bupati, gubernur, hingga presiden. Saya sendiri nggak tahu kenapa, tapi sepertinya sudah rezeki yang digariskan,”

Sementara itu, menyusul usahanya yang pesat, ia pun dibantu oleh banyak pekerja untuk mengurus ternak-ternaknya. Sedikitnya 19 pekerja bertugas setiap harinya untuk mengurusi sapi-sapi dan kambingnya, mulai dari memberi makan, minum hingga kebutuhan lauin yang dibutuhkan, termasuk menyembelihnya jika ada permintaan langsung dari pembeli.

Hal ini mengingat Sholeh juga melayani penyembelihan langsung hewan di tempat, sehingga pembeli tinggal membawa pulang dagingnya tanpa repot lagi. Umumnya hewan kambing yang banyak diminta untuk disembelih untuk digunakan keperluan aqiqah.

Sebagai contoh pengusaha yang alih profesi sebagai peternak kambing dan kemudian sapi, tampaknya membuat kehidupan Sholeh dan keluarganya enak lantaran tak harus melakoni profesi sebagai tambal ban lagi. Namun, ujian hidup kembali datang. Awalnya, ia kerap menjadi omongan warga lantaran bau tak sedap yang ditimbulkan dari kotoran ternaknya.

Beruntung, lambat laun omongan ini terhenti dengan sendirinya. Ia pun bertekad untuk setiap tahun menyumbangkan kambing peliharaannya untuk disembelih dan dibagikan ke warga. Ia pun tak segan membagikan sebagian rejekinya untuk orang sekitar yang membutuhkan.

“Sekarang alhamdulillah sudah tidak ada yang ngomongin saya lagi, karena setiap tahun saya sudah bertekad untuk menyembelih beberapa kambing untuk dibagi kepada warga sini. Terlebih dengan rezeki yang diberikan saat ini, membuat saya harus menolong sesama yang membutuhkan,” sebutnya lagi.

Sayangnya, sebagai contoh pengusaha yang rendah hati, ia tak mau membuka secara gamblang omzet per bulan yang berhasil dicapainya. Ia hanya mengatakan bahwa hasil dari beternak sapi dan kambing cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya bahkan lebih dari cukup. “Mohon maaf, saya nggak mau karena tidak ingin dikira riya (pamer). Yang pasti, alhamdulillah cukuplah, malah lebih-lebih kok,” ucapnya.

Kisah Sholeh di atas memberikan inspirasi sekaligus pelajaran bagi kita semua, bahwa untuk memulai usaha apa pun tidak bisa dimulai dengan instan. Dibutuhkan kerja keras dan keuletan serta kesabaran untuk mencapai sukses.

Seperti kata ungkapan yang kerap kali terdengar di masyarakat, ‘tak ada kesuksesan yang datang tiba-tiba’. Proses hidup susah yang pernah dilakoni bahkan akan menjadi cerita, sekaligus sejarah dan pelajaran berharga bagi diri sendiri dan orang lain di kala sukses telah dalam genggaman.

Sapi Belgian Blue Harganya Berapa?

Sejak beberapa tahun lalu pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mengembangbiakkan sapi berjenis belgian blue. Sapi satu ini disebut-sebut termasuk jenis sapi unggul dengan harga jual yang tinggi. Sapi belgian blue merupakan sapi yang berasal dari Belgia Tengah, Belgia. Sapi Belgia adalah hasil proses panjang kawin silang dan “selective breeding” selama hampir 200 tahun dari pengembangan hasil “cross breeding” sapi Durham Shorthorn dari Inggris dan Friesian… Baca selengkapnya...

Perbandingan Harga Sapi Limosin dan Simental, Mana Yang Lebih Mahal?

Di Indonesia ada 2 jenis sapi yang sangat populer karena performa dan bobotnya yaitu sapi Simental dan sapi Limosin. Tampilan kedua jenis sapi ini memang terlihat lebih gempal dan bongsor jika dibandingkan dengan sapi lokal, sehingga ‘menggoda’ mata para pedagang daging dan pemburu hewan kurban. Baca selengkapnya...

Memilih Model Kandang Sapi Perah Yang Cocok Dengan Cuaca Di Indonesia

Akhir-akhir ini, cuaca di Indonesia semakin gerah. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut secara meteorologis disebabkan suhu udara yang meningkat disertai dengan kelembapan udara yang tinggi. Berdasarkan pencatatan meteorologis yang dilakukan BMKG, suhu tertinggi terjadi di Sentani, Papua. Baca selengkapnya...

Inilah Bumbu Sambal Super Untuk Sop Iga Sapi Bening

Daging Iga Sapi atau rib adalah bagian daging sapi yang berasal dari daging di sekitar tulang iga atau tulang rusuk. Bagian ini termasuk dari delapan bagian utama daging sapi yang biasa dikonsumsi. Seluruh bagian daging iga ini bisa terdiri dari beberapa iga, mulai dari iga ke 6 sampai dengan iga ke- 12; untuk potongan daging iga yang akan dikonsumsi bisa terdiri dari 2 sampai dengan 7 tulang iga. Tulang iga, atau short ribs, biasa diberi bumbu untuk dibuat menjadi sop iga sapi bening Baca selengkapnya...

Sapi Dapat Hidup Hingga Usia Berapa Tahun?

Sapi perah adalah jenis sapi yang dikembangbiakkan secara khusus karena kemampuannya dalam menghasilkan susu dalam jumlah besar. Pada umumnya, sapi perah termasuk dalam spesies Bos taurus. Pada awalnya, manusia tidak membedakan sapi penghasil susu dengan sapi potong. Apapun jenisnya, seekor sapi dapat digunakan untuk menghasilkan susu (sapi betina) maupun daging (umumnya sapi jantan). Baca selengkapnya...
  • Bali Cattle National Asset that Needs to be Preserved

    The government needs to increase the population and productivity of Bali cattle, a national asset other countries do not have, an expert has said. The Bogor Agricultural Institute’s (IPB) animal husbandry professor Ronny Rachman Noor said on Thursday that Bali cattle had often been undervalued by the government because they were local livestock.