Loading...
iden

Adikelana Adiwoso: Dari Kantor Mewah Kini Berkutat di Kandang Sapi

Bisnis memang identik dengan keberanian mengambil keputusan, sekalipuan terdengar ‘tidak enak’ pada awalnya. Pengalaman ini pula yang sempat dirasakan oleh Adikelana Adiwoso, pendiri PT Juang Jaya Abadi Farm (JJAF). Sebelum akhirnya sukses mengelola kandang sapi miliknya sendiri, ia harus mengambil keputusan berani untuk mundur dari jabatan mentereng di sebuah perusahaan konglomerat

Kisah ini bermula pada akhir tahun dekade 90-an saat ia memutuskan untuk pensiun dari perusahaan penggemukan sapi, PT Tipperary Indonesia, perusahaan milik Bakrie , yang dikenal sebagai salah satu konglomerat Indonesia. Keputusan mundur ini diambil setelah ia mantab melakukan manuver bisnis dengan menjadi pebisnis ‘sapi’.

Sebelum memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri, pria yang akrab disapa Dicky itu pun memiliki latar belakang karier yang panjang di berbagai perusahaan besar baik nasional maupun global. PT Bakrie & Brothers bukan satu-satunya perusahaan yang pernah dijajakinya dalam mengasah kemampuannya.

Perusahaan milik keluarga konglomerat legendaris dunia asal Jerman, M. Rotschild & Company di New York, AS juga  perusahaan global seperti, Johnson & Johnson International pernah menjadi tempatnya berkarir. Demikian pula dengan International Finance Corporation yang tak lain anak usaha Bank Dunia pun tercatat sebagai tempatnya berkarir.

Melepaskan jabatan Presiden Direktur di Tippery, Dicky kemudian mengawali bisnis pribadinya dengan menjadi pedagang sapi impor. Saat pertama kali memulai bisnis, ia mengaku menggunakan modal seadanya saja. Mobil Toyota Land Cruiser kesayanganya pun harus dijual kala itu. Laku Rp 300 juta, hasil penjualan mobil itu tak sepenuhnya digunakan untuk modal bisnis, tetapi dibagi-bagi untuk berbagai keperluan.

Ia membagi masing-masing Rp 100 juta dari keseluruhan uang itu untuk istri (agar dapur tetap ngebul sekaligus biaya sekolah anak kala itu), untuk membeli mobil bekas, dan untuk modal membeli sapi impor dari Australia.

Beruntungnya ia memiliki teman-teman yang mempercayainya dan memberikan tambahan modal. Bisnisnya pun perlahan mulai naik, hingga pada tahun 2000 akhirnya ia mengelola kandang sapi dibawah bendera PT Juang Jaya Abdi Farm. Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Lampung pun dipilih sebagai lokasi peternakan sapinya itu sampai kini.

Di awal merintis bisnis itu, Dicky membangun kandang sapi di atas lahan seluas 20 hektare yang mampu menampung hingga 6 ribu sapi dalam satu periode. Sementara dalam satu tahun ada 3 periode penggemukan sapi. Artinya dalam satu tahun ada 18 ribu sapi yang digemukkan.

Pada dasarnya bisnis yang digeluti Dicky tampak sederhana. Sapi impor Brahman cross didatangkan dari Australia dengan bobot sekitra 300-350 kg, kemudian digemukan selama 4 bulan menjadi 450-500 kg. Selanjutnya sapi tersebut dilepas ke pasar, dalam hal ini pasarnya adalah rumah potong hewan (RPH), pasarannya pun sangat pasti.

Meski begitu, bisnis yang digeluti Dicky sama sekali tak semudah yang dibayangkan. Pelaku industri harus mampu melakukan perhitungan dengan sangat presisi mulai dari biaya impor hingga sapi nantinya masuk RPH. Lebih dari itu, usaha ini berkaitan dengan ‘nyawa sapi’, sehingga kesehatan ternak menjadi hal yang sangat penting. Asupan makanan juga berbagai aspek lain berkaitan dengan kesehatan sangat penting diperhatikan.

Bukan sekedar asal ‘tunjuk’, demi memberikan contoh etos kerja pada pekerjanya di lapangan, Dicky tak segan untuk turun tangan langsung di kandang sapi. Tidak hanya untuk mengurus makanan, tetapi urusan menyekop kotoran sapi juga ia lakukan. 

“Jangan dikira kalau sudah menjadi owner, presdir di bisnis ini lantas bisa ongkang-ongkang kaki, pasti ga jalan bisnisnya kalau begitu caranya. In this business you have to study and give examples with the grass root people,” katanya dikutip dari swa.co.id.